cerpen "Bila Bukan Bela" Shinta Nurmawanti

Bukan aku, bukan aku, dan sekali lagi bukan aku. Memangnya siapa yang sudi? Aku hanya ingin liburan di tempat ini, hanya itu.
Cowok saiko itu terus mengikutikuku, mengganggu waktu liburanku. Andaikata cowok bertubuh tinggi tegap berkulit hitam manis dengan alis sedikit tebal itu tidak saiko, mungkin dia akan masuk daftar gebetanku. Hari pertama bertemu mungkin sebagai cewek normal cukup lazim matanya pasti akan tertuju padanya. Begitu pula aku.
Tapi siapa nyangka cowok seperti dia ternyata benar-benar murahan sekali. Cuma melihat cewek sepertiku saja dia membuat kehidupanku terusik. Apakah dia marah aku memandanginya saat di rumah makan itu, atau apa?.
            Aku nabila, panggil aku billa dan hanya hardima yang memanggilku dengan nama depan saja.
            “ Nab, latihan terakhir nih. Gimana prasaanmu? “
            “ Semakin geregetan dim, pingin cepet-cepet tanggal 17 “
            “ Pingin cepet-cepet upacara atau pingin cepet-cepet ke singapur? “
            “ Hahaha “ kalimat hardima memaksa mulutku menganga dan mengeluarkan suara tawa yang lepas. Sudah lama aku tidak tertawa lepas seperti ini. Rasanya itu sekujur tubuh ku sejenak turun dan hempasan nafasku keluar nikmat sekali. Tidak seperti 5 bulan terakhir. Mengingat 2 hari lagi sudah 17 agustus rasanya perjuanganku selama 5 bulan tidak sia-sia. Senang sekali bisa membanggakan orangtua, sekolah terutama para senior paskibra di sekolahku. Aku siswa perwakilan dari kota semarang yang berhasil lolos sleksi Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) tingkat nasional. Selama 2bulan aku latihan untuk sleksi tingkat kota semarang, dan aku berhasil lolos untuk mengikuti sleksi tingkat provinsi Jawa Tengah. Belum sampai di situ perjuanganku 2 bulan aku berlatih untuk lolos sleksi tingkat nasional. Dengan doa dan dukungan orangtua terutama ridho Allah aku berhasil menjadi Paskibraka Indonesia. 1 bulan latihan formasi pengibaran bendera di Istana Merdeka dan di karantina di Jakarta, 2 hari lagi saatnya 72 siswa perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia menunjukan hasil kerja keras mereka.
***
            Hari ini pertama kalinya aku bangga pada diriku sendiri. Tanpa biaya dari orang tua aku bisa liburan ke singapura, karna aku percaya seluruh makhluk yang ku sayang selalu di dekatku. Tidak hanya di biayai ke singapura saja, negara juga memberikan hadiah berupa uang ditambah uang saku. Sekarang rasanya aku sangat bertrima kasih sekali kepada senior – seniorku.
Saat aku dan hardima sedang makan bersama di rumah makan daerah universal. Mataku terpaku sejenak di depan makhluk tampan bertubuh tinggi tegap dan berkulit hitam manis dengan alis sedikit tebal. Ketika makhluk itu berbalik menatapku hardima sedikit menyadarkanku dan dia terlihat tidak nyaman dengan sifatku tadi.
            “ Nab, ga usah genit deh. Pesen dulu nih makanan “
            “ Pesenin apa aja deh dim, asal jangan daun. Soalnya aku ga ngerti menunya “ jawabku tersenyum.
Aku memalingkan wajahku dari hardima, kulihat cowok yang kupandangi tadi duduk di kursi rumah makan yang sama. Refleks ku pegang kerudung di kepalaku, rasanya berantakan. Aku pamit ke toilet untuk merapikan kerudungku, hardima tersenyum.
Kerudungku sudah selesai kubenahi. Di depan toilet cewek kulihat cowok yang ku pandangi tadi berdiri menatapku dengan pandangan kesal bercampur sedih.
Perlahan dia menghampiriku.
            “ Nab, aku fikir kamu ga akan ke sini. Aku senang kamu ada di sini, tapi aku kesal kenapa lama sekali. I miss you, you know? “ cowok itu berbicara padaku seperti dia berbicara dengan kekasihnya yang sudah lama meninggalkannya.
            “ maaf sebelumnya darimana anda tahu nama saya ? “ jawabku halus.
            “ nab, apa maksud mu? Kau kesini dengan seorang pria dan kau pura-pura tak mengenalku? “ tanyanya marah.
            “ siapa kamu memangnya? “ tanyaku bingung.
            “ simpan dulu leluconmu, sekarang ikut aku “ dia menarik tanganku keluar rumah makan.
            “ hei !!! “ bentakku.
Namun cowok itu tetap memaksa dan menggenggam tanganku dengan erat. Hardima tidak melihatku di tarik oleh cowok yang menurutku saiko ini. Dia sedang memesan makanan dengan seorang pramusaji. Entah mengapa aku berharap hardima tidak melihatku. Aku membiarkan cowok ini menarikku. Aku penasaran apa maksud perkataannya di depan toilet tadi.
            Disaat melewati toko roti, disitulah yang selalu tercium bau enak. Disudut ada sebuah toko aksesoris yang menarik dan turun, turun, turun disitulah  sebuah lorong yang terlihat sangat berbahaya. Sebuah tempat tersembunyi, mungkin dulunya adalah sebuah bar.
“ hey..emm, mister kenapa kau membawaku kesini ? “
            “ kamu ngomong apa sih nab, ini studio kita. Kamu lupa.”
            “ studio apa? Ini pertama kali aku ke singapur puas.”
            “ kamu. Bukan nabela?”
            “ maaf bukan “
Kubalikan badanku dan memalingkan wajahku darinya. Langkah pertama kakiku pergelangan tanganku seketika disambarnya. Aku berbalik ke arahnya dan dia memeluk diriku, aku merasakan rindu dalam pelukan itu. Tentu saja rindunya, bukan rinduku.
***
            Ternyata nabela yang di maksud cowok ini adalah saudara kembarku. Di dalam ruangan ini atau yang biasa mereka sebut studio mereka adalah studio dimana mereka membuat mulai dari design baju hingga gaun mewah. Nabela adalah kekasih cowok ini, aku ingat saat nabela cerita tentang cowoknya di singapura. Ini alasan kenapa cowok ganteng di hadapanku mengikutiku terus. Nabela sempat tinggal di singapura dan kuliah mengambil bagian design. Namun sebelum cita – citanya menjadi designer terwujud, Tuhan berkata lain. Nabela menutup umurnya saat 21 tahun. Mungkin cowok ini belum tahu soal hal itu.
            “ ini gaun bagus banget, couple ya? Tapi ini bukan wedding dress kan?” aku menyentuh kain yang indah di sudut studio.
            “ memang bukan wedding dress, aku dan nabela buat itu seperti wedding dress namun tidak terlalu formal. Dia pernah janji kalau kita menikah dia akan pakai itu.”
            “ betapa senangnya memakai gaun se indah ini, mungkin aku bakal nangis pakai gaun ini. Mungkin nabela juga, tapi dia ga akan bisa memakainnya”
            “ kenapa? Kau ingin mmemakainya?”
            “ gak gitu, nabela.........”
            “ nabela kenapa bil?”
Kutatap matanya, seakan dia sudah tau jawabanku. Kurasa dirinya tak kuat mendengar ini semua. Tapi harus ku katakan.
            “ nabela, saat pulang ke Indonesia pesawat yang di naikinya meledak saat landing di Batam” tak terasa air mata membasahi pipiku mengalir ke daguku.
Air mata pun mengalir di wajah ganteng cowok ini dan saat dia sadar saat ini sedang bersamaku disembunyikannya wajah ganteng itu di antara kedua lengannya dan memeluk lututnya. Untuk pertama kali kulihat cowok menangis. Tak lama dia mengangkat kepalanya dan wajahnya yang ganteng menatapku.
            “ nabila, kamu ga pegel dari tadi berdiri terus?”
            “ enggak biasa aja”
            “ aku ingin ke Indonesia. Aku ingin ke makamnya”
***
            1 minggu di singapura dan setelah hari saat aku ke studio mereka aku mulai merasa dekat dengan cowok ganteng. Hari ini aku pulang ke Indonesia dan satu pesawat dengan cowok ganteng. Ya tuhan aku belum sempat tanya namanya.
            Sampai dibandara Soekarno-Hatta cowok ganteng langsung memintaku mengantarkannya ke makam nabela.
            “ iya aku anter sekarang, tapi ada syaratnya”
            “ apa? Please nab aku sudah di jakarta”
            “ tenang aku cuma mau tau namamu”
            “ kau belum tahu namaku ya. Hahaha perkenalkan namaku Tommy”
Bela beruntung sekali punya cowok seganteng tommy. Pokoknya aku harus kuliah ke singapur, cowok - cowoknya kece badai.
            Nabela hampir 2 tahun terbaring di sini. Kalau sempat saminggu sekali aku curhat ke nabela. Kadang aku ngerasa jenuh nabela cuma diem aja. Tapi aku juga bakalan pingsan kalau dia bisa jawab.
            “ bel maaf ya baru bisa kesini. Aku sibuk sama paskibra terus nih. Kemarin baru kesingapur hadiah dari paskibraka. Nih aku bawain oleh-oleh cowok ganteng mu”
            “ nab, gini caramu ninggalin aku. Untung ada duplikatmu, kalau enggak sampai mati aku nunggu kamu di singapur ga balik – balik”
            “ what duplikat??? Kunci kali”
            “ nab aku harap kamu ga akan marah kalau gaun itu duplikatmu yang pakai”
            “ what gaun??”
Kita berdua meninggalkan nabela disana. Kurahap dia ga nangis di sana.
            Cowok ganteng, eh tommy aku membantunya mencari kamar hotel. Ini cowok bapaknya kaya banget kali ya. Nyari hotel maunya yang mahal.
            “ bila aku boleh minta tolong lagi ga?”
            “ temenin aku ke monas dong”
            “ besok bisa kali tom. Aku ada pelepasan sama presiden nih ntr sore”
            “ yaudah aku ikut deh”
            “ kau fikir istana negara rumah ku. Ya gabisa masuk lah”
            “ kalau aku fotografer gimana?”
            “ ide bagus, fotoin aku yg banyak ya sama pak presiden”
***
            Astaga tommy adalah putra dari orang terkaya nomer 2 di singapura. Pantas saja dengan modal kamera dia bisa mudah banget masuk istana negara. Selesai acara pelepasan aku dan tommy foto – foto bersama. Hardima adalah teman paskibraka ku yang paling deket. Dia pernah punya rasa denganku, tapi aku tak bisa menerima perasaannya. Tapi dia berhasil move on kok ke teman paskibrakaku juga.
            “ fotoin lagi dong dim, tolong..”
Aku dan tommy duduk berdua di bangku taman di hadapan kami banyak wajah – wajah ceria di depan kamera.
            “ bil, boleh kah aku bicara sesuatu?”
            “ tentang bela?”
            “ tentang bila bukan bela”
Aku terdiam dan suasana di saat itu masih tetap ceria.
            “ bil, aku tak memanggapmu sama dengan bela. Begitu pula aku mencintaimu tak sama seperti aku mencintai bela. Aku ingin kau yang memakai gaun itu bil”
            “ aku tak mau memakai gaun itu, karna gaun itu hanya bela yang pantas memakainya. Aku mencintaimu tom.”
            “ bolehkah aku membuatkan gaun khusus untuk kau pakai di pernikahan kita nanti bil?”
            “ tidak..!! kita, kita yang akan buat”
Aku tau betapa bahagianya tommy, wajahnya mudah sekali terbaca olehku. Aku tau dia ingin memelukku, tapi dia masih punya kesadaran sedang berada dimana dia sekarang.
Bisa saja presiden memenjarakan kami berdua karna dia melihat kita berpelukan. Haha ga segitunya juga kali.

Aku mencintai tommy, dan aku harap apa yang tommy katakan benar. Dia mencintaiku bukan karna aku saudara kembar bela. Bila bukan bela tommy janji akan mecintaiku, aku NABILA.

Share:

0 komentar